
Cangkir Indah
Ada sebuah kisah tentang segenggam tanah liat. suatu saat ada seseorang yg dtg padanya, membawanya ke suatu tempat yg tidak dikenalnya. dia percaya pada orang itu, krna setiap hari orang itu slalu menemaninya di sebuah kebun.
org itu membawanya ke negeri asing yg ia tidak kenali. di sana, dgn terkejut dia menangis, krna temannya itu menyerahkan dia dgn orang lain, yg tak pernah dia temui sebelumnya…
dia jahat, pikir tanah liat itu, krna setiap saat org itu hanya memukul tanah liat itu hingga ia kesakitan, ditonjok, di hantam, smpai ia benar2 menangis kecewa…
tidak hanya itu kawan, dia juga membakar tanah liat itu. bayangkan, di atas api yg membara, nyaris terpanggang. tanah liat itu hanya bisa menangis, dia sangat kecewa tidak mengerti perasaan apa2 hanya kecewa. kecewa mengapa orang yg ia percaya tega menyeretnya dalam masalah, tega membuat ia sakit, tega meninggalkan dia. dia hanya menangis krna tiap hari tanpa henti tubuhnya disiksa.
keesokan harinya, masalah lagi yg menimpa. orang itu menyiksanya dgn alat tajam kini, yg jelas ia tau itu menyakitkan. krna setiap senti dari tubuhnya ditusuk, diiris tanpa perasaan, dihujam dgn pisau kekejaman. sekali lagi, ia hanya bisa menangis, tak cukupkah ya Tuhan atas semua masalah dan masalah ini? bertemu dgn org jahat, panas api yg membara, alat tajam yg kejam, yg tak sedikitpun memahami perasaanku.
keesokan harinya, dgn wajah yg babak belur, tanah liat itu pasrah saja menerima masalah baru. benar saja, kali ini dingin yg iya terima, lalu panas lagi, begitu seterusnya. masalah lagi, tanpa teman yg memahami :’(
maka keesokan harinya, ia takjub, bersyukur, bersorak. temannya datang, sahabatnya, ia lupakan segenap masalah yg telah dirasakannya, hanya berfikir setidaknya aku melalui ini semua dengan sahabat, seperti dahulu, ketika aku menemaninya berladang dikebunnya.
“ini dia,” kata orang jahat menyerahkan tanah liat itu.
“luar biasa, dia sangat cantik, wajahnya berubah indah, tak lagi tanpa bentuk seperti dahulu. aduhai, liat ukiran2 bagus ini, kau pasti kerja keras membuatnya? dia akan menemaniku ke manapun,terima kasih banyak” kata sahabatnya.
“tidak masalah. tanah liat ini sangat kuat, dia tahan dengan pukulan2ku hingga dia gampang dibentuk, dia tahan dgn panas hingga bentuknya semakin kokoh, dia tahan dgn tusukan2 tajam, hingga coraknya menjadi sangat indah, dn dia than dalam kondisi beku dan panas, hingga dari segenggam tanah liat yg tak ada apa2, menjadi cangkir yang luar biasa cantik. kau tau kawan? ada saudagar kaya yg menawar cangkir cantik ini dengan harga mahal, kau berniat menjualnya?” tanya lelaki itu.
“tidak, seberapapun tak akan aku jual. beberapa hari ini, aku slalu terbayang nasibnya, apa kah dia akan hancur, apakah dia akan gosong, atau dia akan remuk. aku hanya bisa berdoa, smga dia tahan dengan setiap ujian yg ia tempuh. krna aku sgt yakin, jika dia benar2 kuat dalam menghadapi semua ini, dn menjadi cangkir yg cantik. tidak akan aku jual, krn dia sahabatku,” katanya.
tanah liat itu hanya bisa menangis mendengarnya, sembari menatap wajahnya yg berubah cantik ketika memandang cermin. perasaannya? senang, haru, bahagia, sedikit kesal, takjub, luar biasa. tetesan airmata yg ia jatuhkan tiap malam, begini indah kah jawabannya? org yg dia anggap pengkhianat, ternyata setiap saat memikirkannya, memikirkan kebaikannya, memikirkan keadaannya.
dan masalah itu? ah, ternyata dia bisa melewatinya. dan kini dia hanya menertawakannya saja, krna dia sedang bahagia.
melihat sahabatnya tersenyum bahagia, dn membawanya serta ketika ia kembali berkebun, menemaninya dgn wujud yg lebih indah dan membanggakan, kembali menjadi teman ceritanya disaat istirahat, dan tak kan terpisahkan.
Percayalah sahabat-sahabatku, masalah itu bukan masalah, jika kau tak mengaggapnya sebagai suatu masalah. masalah itu adalah cara Tuhan agar membentuk kita menjadi sangat cantik. perlahan, ia membentuk kita menjadi kuat. terkadang yg kita rasakan hanya rasa sakit, tapi diluar itu, kita mengenal rasanya kasih sayang.
siapaun yg membentuk masalahmu, abaikan. dia bukan orang jahat, dia teman. hanya caranya menyayangimu saja yg berbeda dgn sahabatmu. dia memang menyakitimu, tp tlong jgn benci dia. jika tak bertemu dgnnya kau hanyalah seonggok tanah liat yang tak berbentuk. tak berupa, bahkan tak bernyawa. lemah.
dan sahabat-sahabatmu itu, jgan kau tinggalkan dia. karena pikirannya itu kawan, selalu cemas memikirkan keadaanmu. lisannya selalu berdoa untuk kebaikanmu. dan hatinya mengalirkan terus rasa sayang kepadamu.
sesekali ia akan membiarkanmu melawan masalah2 itu sendirian, krana ia ingin kau kuat, berupa dan cantik. seandainya kau tau perasaanya, gemuruh cemas melihatmu terluka dan terluka. tapi dia selalu ada, siap menerimamu apa adanya. bahkan ketika kau gagal melewati masalah itu, bahkan ketika kau sudah benar2 tak berupa, dia akan tetap terbuka menerimamu. membelaimu, dan berkata, walau mereka menertawakanmu, bagiku kau tetap begitu cantik
maaf, atas masalah-masalah yang aku buat untuk kalian. tolong jangan pandang aku sebagai org jahat. aku hanya ingin menjadi teman, walau corak yg aku berikan begitu sakit dan tajam, percayalah, itu benar2 indah.anggap saja, aq seberkas warna lain d kanvas kalian. klau kalian tdk suka,mohon liat dari berbagai sisi, siapa tau akan membuat lukisan kalian lbh indah. yah, seandainya pun tidak, setidaknya kau bisa abaikan, anggap saja warna itu tidak ada.
sederhana, aq cuma ingin menjadi teman kalian. sesederhana bintang ingin terus menemani bulan dan sahabatnya malam. apa sih bintang, hanya sekerlip cahaya kecil. setitik, tp niatnya hanya ingin mmberi keindahan.
aq harap kalian akan terus menganggapku sebagai teman, walau jauh di lubuk hatiku, aq akan terus menanggap kalian sebagai sahabat, bahkan dari itu, aku menganggap kalian seperti, keluarga